» » » "Rokok itu Murah, Yang Mahal itu Obatnya"

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Amerika Serikat, bekerjasa dengan World Lung Foundation (WLF), meluncurkan iklan layanan masyarakat berjudul: ”Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal.”

Iklan tersebut menceritakan kisah Robby Indra Wahyuda, seorang pemuda berusia 27 tahun, yang meninggal dunia karena kanker laring akibat merokok. Iklan ini ditayangkan di tujuh stasiun televisi nasional dan stasiun radio selama enam minggu. Kampanye ini juga akan dipromosikan dan disebar melalui YouTube dan media sosial dengan menggunakan tagar #SuaraTanpaRokok.

Direktur Kebijakan, Advokasi, dan Komunikasi WLF Stephen Hamill, mengucapkan selamat kepada Pemerintah Indonesia atas terselenggaranya kampanye nasional pengendalian tembakau terbaru yang menunjukkan bahaya besar dan penyakit akibat penggunaan tembakau pada perokok dan orang sekitarnya. Ia juga memuji keberanian dan kekuatan keluarga Robby dalam berbagi cerita agar kisah Robby dapat membantu orang lain terhindar dari efek buruk tembakau.

Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes dr. Eni Gustina, M.Ph., juga menegaskan komitmen Kemenkes untuk terus mendukung pengendalian tembakau sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa.

”Selain itu, kerjasama Kemenkes dan WLF ini merupakan salah satu upaya berkelanjutan dalam edukasi publik mengenai bahaya kesehatan akibat penggunaan tembakau,” katanya saat peluncuran iklan tersebut di Annex Building, Jakarta, Selasa (29/9).

Segmen pertama talkshow diisi oleh diskusi hangat antara dr. Eni Gustina,  dr. Sandra D. Ratih, MHA selaku Kepala Subdit Pengendalian Penyakit Kronis & Degeneratif, serta dr. Prijo Sidi Pratomo selaku Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau.

Dalam paparannya, dr. Sandra menjelaskan bahwa prevalensi perokok di Indonesia terutama untuk laki-laki dewasa sebesar 67% (Data Global Adult Tobacco Survey 2011). Namun yang lebih mengkhawatirkan, prevalensi yang tinggi juga ditemukan dalam rentang usia anak muda yaitu 13-15 tahun.

Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 yang dilakukan oleh Kemenkes dan WHO, ditemukan bahwa 20% anak usia 13-15 tahun mengonsumsi tembakau, dan 3 dari 5 anak muda menjadi perokok pasif di lingkungan rumah dan di tempat umum.

Menanggapi hal ini, dr. Prijo mengatakan, kebiasaan merokok di masyarakat masih sangat tinggi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya merokok bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Ia mendesak pemerintah untuk untuk mengesahkan Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau oleh WHO dan meluluskan undang-undang lebih lanjut untuk masa depan rakyat Indonesia yang lebih sehat.

Orangtua Robby Indra Wahyuda, yaitu Elansyah Jamhari dan Syaifatul Hadijah, mengisahkan bagaimana Robby meninggal dunia dari kanker tenggorokan akibat merokok. Mereka berharap kisah Robby ini dapat mematahkan niat dari para anak muda yang ingin memulai untuk merokok dan mengajak perokok untuk berhenti merokok, menyelamatkan nyawa mereka dan mencegah orangtua lain merasakan duka akibat kehilangan anak tersayang mereka karena penyakit yang ditimbulkan oleh rokok.

Download our Apps on Android

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post